Pages

Sabtu, 23 November 2013

Orang pinggiran - Petani garam

Di sana disebuah desa dipedalaman kota aceh, tepatnya hidup sepasang suami istri dengan keempat anaknya. Mereka berkehidupan sebagai petani garam, ladang garam itu bukan punya mereka. Mereka hanya dipekerjakan sebagai buruh yang hasilnya dibagi dua dengan sang pemilik. Anak pertama sebut saja Gibran, berumur 10 tahun dan duduk dibangku 5 sd sekarang ikut membantu orangtuanya bertani sepulang sekolah.

Disiang bolong yang begitu teriknya Gibran membantu kedua orangtuanya bersusah payah mengais rejeki dengan membuat garam, Gibran hanya membantu sebisanya. Dia tau tenaganya yang begitu kecil tidak cukup banyak membantu, tapi setidaknya itu dilakukannya untuk meringankan pekerjaan kedua orangtuanya.
Membuat garam disini tidak sama dengan membuat garam seperti didaerah lain yang menggunakan air laut yang lalu dijemur, tapi disini mereka menggunakan pasir laut yang memang bisa diolah menjadi garam. Mereka membuat garam hanya bertiga, tidak ada buruh tani selain mereka disini.

Membuat garam dari mentah sampai jadi itu bukanlah proses yang mudah. Apalagi mereka hanya berdua dengan dibantu sang anak yang masih bisa terbilang bocah. Setiap hari mereka bisa menghasilkan 20kg garam, yang mana tiap kgnya hanya dihargai 2 ribu rupiah.
Tapi itu belum dihitung biaya produksi, sehingga mereka hanya bisa membawa pulang upah 30-40 ribu sehari.
Upah yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah, apalagi dengan keempat anaknya yang masih kecil. Sang ibu masih mempunyai anak balita, si amay. Amay masih harus diberi susu setiap harinya.

Dulu saat amay masih berumur setahun, dia sempat terkena gizi buruk. Karena ekonomi yang susah, sang ibu hanya mampu memberi anaknya sepiring nasi dengan garam, itu tidak dijadikan menjadi empat karena bila dibagi akan keliatan sedikit, sementara bila dijadikan satu terlihat banyak. Anak-anaknya yang lapar menikmati sepiring nasi itu dengan lahap tanpa merasakan ketidak enakkan dari rasanya. Gibran menanyakan sang ibu untuk ikut makan bersama, tapi ibu menyuruh anaknya untuk menghabiskannya.
Cerita mereka tidak hanya sampai disitu.

Dihari berikutnya, Gibran dan sang adik yang ke 2 adit pergi mencari botol dan gelas plastik disekitar pantai untuk dijual nantinya.
Mereka biasanya berjalan sampai 6 jam dan itu sudah biasa bagi Gibran, tapi tidak bagi adit yang sedang tidak sehat. Disepanjang kaki adit tumbuh banyak bisul, demi membantu sang kak adit rela menahan rasa sakitya. Dia merasa tidak kuat dan sesekali menggaruk bisulnya yang begitu gatal. Setelah sampai rumah, Gibran harus memisahkan yang bisa dijualnya, karena tidak semua apa yang dia temukan bisa dijual.
Dia menggabungkan hasil hari ini dengan kemarin, lalu datang pengepul yang biasa membeli hasil mulungannya.

Dia mendapat 6kg dengan upah 1000/kg. Tadinya uang itu ingin dia belikan beras untuk ibu dan adiknya, tapi dia sudah berjanji kepada dirinya untuk membelikan obat bisul untuk adit. Lalu Gibran mampir ke warung membeli salep untuk adiknya, tapi tidak disangka uang Gibran kurang. Karena ibu sang warung tidak tega, lalu diberikannya salep itu dengan uang yang dipunya Gibran dan tidak lupa memberikan sebuah pisang untuknya.

Gibran amat bersyukur atas rejekinya hari ini. Sesampainya dirumah, Gibran langsung mengolesi salep itu ke bisul adiknya. Adit sudah sering terkena bisul ini, dia juga sudah pernah dibawa ke puskesmas dan nyatanya bisul itu tidak kunjung hilang juga. Sang ibu bercerita ketika dia mengandung adit, itu saat tsunami terjadi di Aceh. Ketika Adit lahir, adit lahir premature dan badannya lemah dan mudah terserang penyakit. Di malam hari Gibran dan adit belajar bersama, disana belum ada listrik. Sehingga mereka hanya mengandalkan lampu petromak dan senter. Itupun kalo senter masih ada baterainya. Mereka belajar hanya diterangi penerangan saadanya.

Kisah ini berdasarkan kisah nyata dari apa yang saya tonton di trans7 tentang orang pinggiran di Aceh, petani garam. Semoga kisah ini bermanfaat bagi kita semua, dan semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah ini. Dan berharap semoga allah selalu memberikan yang terbaik buat mereka Amin ..

Rabu, 26 Juni 2013

You

You have made me love you....
made me miss you....
made me always thinking of you...
made me expect you....
and eventually just wanna me falling down

but why? why?
when you discard to me
you are just like devil!
Damn!

Even....

you like a ghost, which always haunted me
you like a villain, which always lie to me
you like a player, which always play game with me.

but now.. can forget you yeah... forget you!
grateful...
that I can be more stronger and patient ..
the passage of time was able to eliminate injuries ..
now all been passed and become the past.... just past .. and will be wonderful in the time
 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik