Pages

Selasa, 18 Agustus 2015

Jakarta keras Bung!

Mungkin bagi yang tinggal di Jakarta belum pernah merasakan betapa kerasnya Jakarta ini. ya hidup dan tinggal di ibukota kita tercinta ini dengan bergaya hidup modern, dan serba ada adalah kelebihannya. banyak yang berpikir awalnya seperti itu.

tapi siapa yang tahu bahwa saat anda sudah tinggal disini, yang berjuang dengan keraslah yg bertahan. artinya? ya anda tidak bisa berleha-leha tinggal di Jakarta tanpa bekerja keras.
mungkin lain hal bila anda memang terlahir dari keluarga konglomerat.

Kebetulan saya baru mengalaminya sekitar setahun yang lalu.
Ceritanya begini, saat saya pulang sehabis bekerja di daerah Cikini. Saya ngeteng bus jurusan lebak bulus, tapi tujuan saya hanya sampai Mampang. saat ini tersedia non ac dan ac.
Saya memilih non ac, karena bus ac selalu penuh tidak tersedia tempat duduk yang kosong. selain untuk berhemat, karena harganya yang berbeda.

sebelum naik saya menanyakan dahulu ke kenek apakah sampai mampang, karena daerah kuningan tiap pulang jam kantor selalu macet dan mereka tidak mau sampai arah lebak bulus. hanya sampai jalan baru langsung balik puter arah dan mengoper penumpangnya ke bus lain. syukur bila penumpangnya banyak dioper ke bus lain. tapi ini..

balik ke cerita saya, abang kenek bilang iya terakhir sampai mampang. di bus itu penumpang hanya 5 orang. saya sudah was was takut di turunkan di tengah jalan dan dioper. dannnnn

sialnya......

dugaan saya benar, saya diturunkan hanya sampai pasar festival. bayangan ditengah padatnya kemacetan, lalu tidak dioper ke bus lain. saya menagih uang saya kembali karena mereka tinggal tanggungjawab dan berbohong tidak lewat sampai mampang. tapi sang kenek hanya memberi saya setengah dari ongkos.

oh man, langsung saya turun di depan pasar festival. saya ingin kembali naik bus untuk sampai mampang. tapi saat saya ingin mengambil uang di dalam dompet. saya hanya membawa uang sepas untuk ongkos. Pasti anda bertanya kenapa anda begitu ceroboh? atau begitu miskin maybe?
Noo, whatever you all thinking like. saya melakukannya karena tidak ingin boros, saya ingin hemat. karena setiap membawa uang lebih saya suka jajan dan boros.

Lalu apa yang saya lakukan untuk bisa pulang? Pasar festival-Mampang? do you have idea? ya kebetulan abang saya kerja di dekat sini, setia budi. saya berniat menelponnya untuk meminta uang ongkos. tapi saat saya telpon dia baru tiba dikantor, karena shift malam dan tidak bisa keluar karena dia bekerja menjadi cs dan perusahaannya sangat ketat dan disiplin.

Awalnya saya berniat menelpon ayah saya, tapi saya urungkan karena saya tahu sifat ayah saya tidak bakal mau menjemput di tempat yang macet. Lalu saya berinisiatif untuk meminta uang ongkos ke orang lain atau naik bus tapi bilang hanya bisa membayar setengah karena kehabisan ongkosT_T
tapi karena terlalu malu banyak orang dan takut dimarahi saya menolakknya.
Lalu?

iya saya berjalan kaki sampai.. hayo sampai mana. Mampang?
tidak mana mungkin saya sekuat itu, meskipun kuat tapi saya malu berjalan kaki sendiri di tengah kemacetan sampai sana. lagi-lagi malu ini benar-benar menyusahkan. saya berjalan sampai depkes, yang mana saat ditengah jalan ibu saya menelpon dan menanyakan saya sedang dimana. dan pada akhirnya beliaulah yang menelpon ayah saya dan menjemput di depan depkes. saat menelpon ibu saya menasehati jangan sampai bawa uang pas-pasan, selipin uang kecil dimana-mana. ya itu salah satu tips.
   saat saya diperjalanan pulang bersama ayah, saya sempat terpikirkan betapa kerasnya hidup di Jakarta ini. untuk membayar ongkos saja pas2an padahal saya orang Jakarta asli bukan perantau. Bagaimana orang perantau yang bekerja di Jakarta? pasti mereka dituntut harus bisa mengatur uang untuk ongkos, makan dan kost. serta untuk kebutuhan yang lain.

Saya baru bisa merasakan dan mengetahui kenapa banyak orang yang menyebut hidup di Jakarta itu keras.
di dalam hati saya berkata, itu hanya sebagian kecil dari kerasnya hidup di Jakarta. masih banyak lagi hal lainnya.
saya masih sangat bersyukur masih mempunyai orangtua yang melindungi dan merawat saya.

Terima kasih saya menjadi banyak belajar kehidupan dengan mengalami pengalaman yang tak terlupakan ini.
Masih banyak segudang pengalaman dan tantangan yang menunggu saya diluar sana.

 

Template by BloggerCandy.com | Header Image by Freepik